Quantcast

Tanya Jawab Kasus Rumah Tangga

classic Classic list List threaded Threaded
1 message Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Tanya Jawab Kasus Rumah Tangga

Leonardo Rimba
Berikut adalah permohonan bantuan solusi bagi satu
Kasus Rumah Tangga yang dialamatkan ke saya oleh
seorang rekan yang, sebut saja, bernama Mbak Susi.
Semoga tanya jawab ini bisa bermanfaat bagi rekan
lainnya. Bagi kliennya atau, bahkan, bagi diri
sendiri.


Kasus Rumah Tangga: Pertanyaan dari Mbak Susi
_____________________________________________


Selamat Pagi, Mas Leo:

Mohon maaf dengan datangnya e-mail saya ini. Setelah
saya membaca e-mail Mas Leo mengenai Mbak Vergie, saya
percaya Mas Leo bisa bantu permasalahan saya.

Saya sudah berkeluarga, menikah tahun 2006 yang lalu.
Saya (Susi) lahir tahun 1978 dengan suami (Deni) lahir
tahun 1980. Sebelum menikah kami baik-baik saja.
Tetapi setelah menikah, kami susah mendengar satu sama
lain. Entahlah, sebenarnya kami tidak ingin itu
terjadi, tetapi selalu terjadi, padahal waktu kita
hidup berjauhan 4 tahun sebelum menikah tidak pernah
ada masalah, kenapa setelah menikah banyak sekali
masalah? Perasaan saya yang sensitif sekali karena
berat menanggung beban hidup sendiri berjauhan padahal
sudah dikaruniai anak.

Pertanyaan saya:
1. Apakah sebenarnya kita tidak cocok?
2. Atau ada jalan lain yang lebih baik yang harus kita
lakukan demi kebaikan rumah tangga kita?
3. Apa yang harus masing-masing lakukan?

Mohon bantuannya dengan sangat. Terima kasih atas
perhatian dan bantuannya.

Best Regards,
Susi

------------

Dan inilah jawaban yang diberikan oleh berbagai rekan
untuk Mbak Susi:


Jawaban 1: Dari Mbak Lulu
_________________________


Mas Leo .....

Selalu menarik kasus yang anda sodorkan, ada banyak
hal yang terjadi setelah kita hidup dengan pasangan
kita dalam suatu ikatan rumah tangga, salah satu hal
yang amat rentan sekali adalah dengan mengerti dan
pahamnya perbedaan diantara pasangan tersebut, yang
sebelumnya kita hanya mengetahui perbedaan itu hanya
dari kulit luarnya saja, istilah kasarnya sifat,
watak, tabiat dan kebiasaan pasangan kita akan dengan
jelas sekali kita ketahui.

Bagaimanapun juga ketidak cocokan, salah paham adalah
akibat dari perbedaan itu sendiri, berat dan memang
butuh kesabaran untuk bisa terima perbedaan
itu,belajar untuk memahami dan mengetahui letak
perbedaan itu adalah kunci dasar dalam berumah tangga
yang selanjutnya dengan saling paham kita bisa belajar
menerima perbedaan itu sendiri.

Mungkin dalam hal ini saya pribadi tidak bisa banyak
komentar, mengingat keputusan berumah tangga adalah
kesiapan kita menerima semua perbedaan pasangan kita,
sebagai salah satu konsekwensi kita memasuki salah
satu fase dalam kehidupan.

Best regards for Mas Leo
/Lu2


Jawaban 2: Dari Mas BR
______________________


Dear Mas Leo,

Mungkin saya mo nimbrung dikit nich.

Pertanyaan:
1. Apakah sebenarnya kita tidak cocok?

Kayanya ini bukan cuma sekedar masalah cocok atau
tidak cocok, tapi lebih kepada kurang keterbukaan satu
dengan yang lainnya. Kalo saya baca email dari Mbak
susi dia bilang selama 4 tahun sebelum nikah mereka
berdua hidup berjauhan tanpa ada pertengkaran. Justru
saya lihat masalahnya bermula dari sini. Karena kalo
pasangan yang baru penjajakan satu sama lain, berusaha
saling kenal, dan mereka hidup berjahuan maka
kemungkinan besar mereka berdua (salah satu dari
mereka) tidak/kurang terbuka satu sama lainnya. Dan
kurang komunikasi.
Apalagi kalo salah satu dari mereka orang yang
sensitif dan pasangannya mengetahui hal ini. Jadi yang
ada adalah orang yang sensitif tidak berani terbuka
karena takut pertengkaran, dan pasangannya karena
mereka hidup berjahuan maka lebih baik untuk tidak
menimbulkan pertengkaran yang membuat pusing.
Pada waktu mereka berjauhan mereka hanya memiliki rasa
rindu untuk bertemu satu sama lainnya. Jadi pada waktu
mereka berbicara mereka hanya melepas rindu tidak
mencari tau / menjajaki sifat dari pasangan mereka,
dan bila ada masalah mereka hanya menerima tidak
membahas atau mencari pemecahannya.
Akhirnya mereka bertemu dan tanpa mencoba saling
mengenal lebih dekat mereka memutuskan untuk menikah.
Pada saat2 pertama pernikahan mereka berdua merasa
sangat senang, walaupun salah satu dari mereka berbuat
yang tidak disukai oleh pihak yang lain mereka masih
bisa menahan (tanpa mencoba berbicara dan mencari
pemecahaannya) tapi lama kelamaan rasa tidak bisa
menerima itu menjadi semakin besar dan ini lah yang
membuat mereka seperti sekarang. (rasa tidak puas
terhadap pasangannya/rasa kecewa) dan akhirnya salah
satu dari mereka mencoba mencari pelarian.

2. Atau ada jalan lain yang lebih baik yang harus kita
lakukan demi kebaikan rumah tangga kita?
3. Apa yang harus masing-masing lakukan?
untuk no 2 & 3 jawabannya (dan ini yang tersulit) :
saya mengusulkan agar kedua belah pihak mencoba
mencari orang penengah yang mereka berdua bisa
percayai dan memiliki kebijaksanaan yang bisa
memberikan masukan/pemecahan yang bisa diterima oleh
kedua belah pihak. (dan yang utama adalah orang yang
mau didengar pendapatnya oleh kedua belah pihak) Dan
dihadapan orang tersebut kedua belah pihak harus
mencoba berbicara saling terbuka satu sama lainnya dan
membicarakan masalah apa saja yang mereka tidak sukai
terhadap pasanggannya. (kedua belah pihak harus saling
membuang ego yang berpendapat "saya benar").

semoga bermanfaat

BR


Jawaban 3: Dari Rekan Hiung
___________________________


Pak Leo, saya coba kasih saran berikut ini, mohon
bisa dicopy and paste dalam email Pak Leo

1. sampai kapanpun dua insan manusia tidak akan cocok,
pasti banyak perbedaannya. Mind set harus dirubah
bahwa dua manusia itu berbeda, terima perbedaan
pasangan anda dan jangan memaksakan pasangan anda apa
yang anda
kehendaki

2. jangan terlalu mengharapkan apa yang menurut
pasangan anda harus lakukan terhadap anda

3. bukan masing-masing melakukan apa, tapi anda harus
melakukan bagian anda sebagai istri, jadilah istri dan
ibu yang baik. Jangan berharap terlalu banyak bahwa
anda bisa merubah pasangan anda.

hiung


Jawaban 4: Dari Rekan Katro
___________________________


Mas Leo, saya walaupun katro begini dan belum
nikah, ada yg saya bingung dari kasus ini, saya perlu
tau yg perempuan itu anak keberapa dan bgt juga yang
laki, dan asal mereka dari mana? apa ikut orang
tua? terus orang tua dari yang mana? perempuan kerja
dimana? juga yang laki kerja atau tidak dan kerja
dimana ? masalah apa yang membuat sensitif? hubungan
sexual bgm? saya baca sendiri berjauhan, maksudnya
apa? banyak data yang belum saya dapat dari kasus ini,
kalau sudah ada mungkin saya dapat bantu, krn saya
belum dapet yah saya minta tau dulu, agar tidak salah
kasih masukan. sementara katro gilo hanya bilang ini
kasus yang aneh.........


Jawaban 5: Dari Rekan Dimas Wicaksono
_____________________________________



nimbrung sedikit untuk mbak susi,

mungkin ada sudah pernah menjalani bersama pasangan
anda kurang lebih 4 tahun sebelum menikah, coba
bayangkan kondisi 4 tahun yang selalu indah itu,
ketika berjauhan sekalipun, bayangkan apa yang menjadi
sumber pengikat anda dan pasangan, apa yang memotivasi
anda untuk tetap berkomunikasi, bayangkan kondisinya
saat itu, rasakan apa yang menjadi kekuatan anda dan
pasangan sehingga bisa membina hubungan selama 4 tahun
itu,

dan jangan lupa selalu anda juga bayangkan, bagaimana
jadinya kalau kekuatan dan pengalaman-pengalaman itu
bisa dibawa ke masa yang akan datang, dengan kejadian
yang luar biasa hebatnya...wahhhh pasti akan terasa
nikmat, dan menggairahkan,

mungkin itu sedikit saja dari saya, mohon maaf kalau
ada salah2 kata

salam
Dimas Aryo W


Jawaban 6: Dari Rekan Bientono Soedjito
_______________________________________



Dear Susi,

wah begitulah asam garamnya perkawinan dua orang
manusia berlawanan jenis dan sama2 belum mempunyai
pengalaman dalam perkawinan. Saya sendiri sudah pernah
dua kali menikah karena isteri saya pertama telah
dipanggil oleh Sang Pencipta dan olehNya saya masih
dikasihi dan diberikan pendamping lagi.

Nah disinilah saya baru mengerti artinya perkawinan
karena saya sudah mempunyai pengalaman dalam suatu
perkawinan.

Pada perkawinan saya yang pertama dengan landasan
cinta saya merasakana kebahagiaan akan tetapi tidak
luput dari pertengkaran sebagai bumbunya perkawinan.
Pertengkaran sering terjadi karena satu sama lain
tidak mau mengalah dan menganggap pendapatnyalah yang
paling benar sehingga menginginkan pasangan kita
mengikuti pendapat kita. Kita tidak pernah
memposisikan diri kita apabila kita berada ditempatnya
sehingga kita tidak pernah bisa bertemu karena masing2
selalu mempertahankan pendapatnya yang dianggap paling
benar. Kondisi ini memang tidak terjadi pada saat kita
belum menikah karena masing2 dari kita sering lebih
mengutamakan pendapat pasangan kita agar tidak terjadi
benturan yang tidak kita inginkan yang bisa berakibat
layu sebelum berkembang.

Nah pada perkawinan kedua saya menikah lagi tidak
berdasarkan cinta akan tetapi lebih kepada kebutuhan
untuk memiliki pendamping sebagai teman hidup.
Disinilah saya mulai menjalankan kehidupan perkawinan
dengan mengacu kepada perkawinan saya yang pertama.
Banyak pendapat dari pasangan hidup saya yang tidak
seirama dengan pendapat saya akan tetapi saya berusaha
untuk bisa menerima dan mengakji lebih mendalam
pendapat pasangan saya yang ternyata dapat saya
terima. Apalagi untuk hal-2 yang tidak terlalu prinsip
saya tidak terlalu mempermasalahkan untuk menghindari
pertengkaran yang tidak ada gunanya. Akhirnya saya
berpikir bahwa pertengkaran sering disebabkan karena
adanya perbedaan pendapat dimana masing-2 dari kita
menginginkan agar pasangan kita berpikir sama dengan
diri kita.Hal ini adalah tidak mungkin bisa terpenuhi
karena kita tidak akan bisa menguasai atau masuk dalam
pikiran pasangan kita agar bisa melakukan hal-2 yang
seperti kita kehendaki. Satu2nya yang bisa kita
lakukan adalah berusaha untuk menerima pendapat
pasangan kita dan seiring dengan perjalanan waktu baru
masing-2 dari kita bisa mengetahui apakah pendapat
pasangan kita itu benar atau tidak sehingga akhirnya
kita bisa saling mengkoreksi pendapat mana yang lebih
benar. Kita juga harus bisa mendudukkan diri kita pada
posisi apabila kita dalam posisi sebagai pasangan kita
apakah juga berpendapat yang sama.

Demikianlah akhirnya dengan cara tersebut saya bisa
menjalani kehidupan perkawinan saya yang kedua dengan
lebih tenang dan mendapatkan kebahagiaan karena  dapat
berbagi rasa dan saling tukar pendapat dengan baik
tanpa diikuti dengan pertengkaran2 yang disebabkan
karena selalu mempertahankan pendapatnya sendiri.
Dengan cara ini saya justru memperoleh cinta yang
semakin lama semakin subur sehingga saya selalu
melihat keindahan dan kecantikan pasangan saya luar
dalam semakin besar.

Semoga dapat dipakai sebagai salah satu contoh bagi
yang lain.
 
Bye,
Inchon


Jawaban 7: Dari Mbak Lies Sudianti
__________________________________



Dear Bung Leo,
 
membaca email anda ini saya jadi tersenyum, itu
bedanya pacaran dan menikah saat pacaran semuanya
seperti baik baik saja tetapi begitu menikah hidup di
bawah satu atap satu tempat tidur memang semuanya akan
berbeda, itu mungkin sebabnya di barat dikenal istilah
"samen leven" yang dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan dengan kumpul kebo. Tujuan awal memang
bagus supaya bisa saling mengenal satu sama lain,
kebiasaan kebiasaan baik maupun buruk, pola pikir,
pola kerja, semua ketrampilan yang dimiliki dari
pasangan sehingga saat mereka merasa tidak cocok
mereka akan lebih mudah memutuskan untuk berpisah lain
dengan kalau mereka sudah menjadi suami istri akan
lebih banyak pertimbangan yang harus dipikirkan.
 
Mba Susi mengeluh karena dulu saat belum menikah
mereka hidup berjauhan malah fine fine saja, ini juga
pernah saya alami dengan suami saya, sebagai orang
yang biasa mandiri saya biasa memutuskan segala hal
sendiri dan kebetulan pasangan hidup saya bekerja
diluar kota sehingga kebiasaan itu semakin mengkristal
karena saya tidak ingin hidup bergantung kepada orang
lain walaupun suami sekalipun. Nach kebiasaan ini akan
jadi masalah saat kepala rumah tangga atau suami ada
di rumah, dia akan merasa istrinya telah mengambil
haknya sebagai kepala rumah tangga, ada orang orang
yang tidak mempermasalahkan bahkan mungkin lebih
senang karena ada yang ikut memikul tanggung jawabnya,
tapi bagaimana kalau sang suami type otoriter, type
leader yang biasa bertindak sebagai pengambil
keputusan pastilah akan ada benturan
 
Karena sudah terlanjur menikah dan punya anak masak
mau bercerai sich, coba tips yang pernah saya trapkan
pada diri saya yang mungkin bisa dipraktekkan bagi
orang lain.

   1. Setiap pernikahan harus dilandasi niat yang kuat
yaitu menikah karena Allah, sehingga kita akan ikhlas
menerima ketentuanNya seburuk apapun itu, tanamkan di
mindset kita bahwa menikah adalah ibadah
   2. Sebelum memasuki gerbang pernikahan masing
masing harus memastikan tidak ada rahasia terpendam
yang ditakutkan akan menjadi bom waktu dalam
pernikahan nantinya
   3. Jangan berbohong demi bisa menikah dengan orang
yang kita incar ( he he he tidak semua lho menikah
karena cinta) karena kebohongan sepandai dan serapi
apapun menyimpannya bisa saja terkuak di belakang hari
   4. Jika sebelum menikah kita sudah melihat banyak
sifat dan kelakuan calon pasangan yang kita tidak sreg
dan sifatnya prinsipil jangan pernah berharap masalah
itu akan selesai setelah pernikahan karena biasanya
sesudah menikah malah aslinya keluar semua. Seperti
laki laki yang suka ringan tangan saat pacaran atau
terlalu possesive sehingga membatasi lingkungan sosial
sang wanita, sebaiknya tidak diteruskan karena
akibatnya bisa fatal dan sudah dibuktikan dalam acara
acara kriminal di TV, kekerasan dalam rumah tangga
bisa terjadi karena sang lelaki merasa memiliki
kekuasaan atas diri wanitnya.
   5. Juga berhati hatilah terhadap orang yang begitu
sempurna, yang memiliki sifat pengalah yang luar biasa
dan terkesan plin plan karena bisa saja begitu dia
sudah menjadi suami belangnya baru kelihatan dan anda
akan shock menghadapi kenyataan ini.
   6. Biasakan untuk menggunakan pola pikir TO GIVE
and TO TAKE bukan sebaliknya, jangan pernah punya
pamrih saat kita memberi seperti CINTA, jangan merasa
bahwa cinta yang kita berikan begitu besar sementara
timbal baliknya tidak sesuai, cinta dan perkawinan
bukan dagang yang bisa diselesaikan dengan rumus
matematik. Selama kita berpegang pada prinsip menikah
karena Allah maka kita tidak akan menghitung untung
dan rugi, bahkan saat rumah tangga digoncang prahara
kita tidak akan gamang karena yakin Tuhan punya
rencana yang baik buat kita sehingga kita bisa
mengambil hikmah dari setiap peristiwa.
   7. Pernikahan 2 manusia dewasa dari background yang
berbeda tidaklah mudah dibutuhkan kedewasaan,
kejujuran, keikhlasan dan komitmen untuk bisa
menjalaninya. Pasangan dalam perkawinan juga merupakan
partner untuk mengayuh roda kehidupan buat irama yang
harmonis, jangan yang satu melangkah terlalu cepat
sementara lainnya leha leha karena lama kelamaan akan
terjadi kepincangan.
   8. Jika kehidupan perkawinan mulai jenuh coba
melakukan refreshing berdua tanpa anak, coba lakukan
ritual ritual romantis seperti yang pernah anda
lakukan saat cinta masih menggebu. Ini problemnya
terkadang naluri seorang ibu susah meninggalkan
anaknya sehingga kalaupun terpaksa tidak bawa anak
tapi dia tidak bisa menikmati "bulan madu keduanya"
karena pikirannya ada di rumah.
   9. Selalu camkan kuat kuat dalam diri kita apa sich
yang membuat pasangan kita terpincut pada diri kita
dulu, pertahankan itu sebisa mungkin. Jika menyukai
kita karena kecantikan dan kesegaran kita yang membuat
dia merasa semangat maka sebagai istri anda juga wajib
menjaga kecantikan dan kesegaran anda, ikut senam
kebugaran sehingga darah mengalir lebih cepat yang
membuat wajah selalu berseri, tampilkan inner beauty
sebagai kompensasi kulit yang mulai keriput, percaya
tubuh hanyalah wadah buat pasangan hidup kita selama
spirit kita tetap cantik maka dia hanya akan menangkap
sinar kecantikan itu. Pokoknya dalam perkawinan
management diri sangatlah penting jangan mentang
mentang sudah menikah jadi boleh enak enakan.Jika
suami suka karena kepandaian kita janganlah pernah
berhenti belajar  karena anda akan menjadi sumber
inspirasi suami.
  10. Kita tidak bisa mengabaikan faktor biologis
dalam perkawinan, pada umumnya wanita lebih dewasa
dibanding laki dalam usia yang sama jadi kalau wanita
usianya lebih tua harus berhati hati karena anda sudah
memilih untuk menghadapi kemungkinan kemungkinan yang
tidak menyenangkan, bayangkan kalau seorang laki laki
masih bisa menikmati hubungan seks sampai usia
berapapun sementara wanita lebih cepat pudar hasrat
seksualnya. Jadi kalau kita menikah dengan laki laki
yang lebih muda pastikan kita memiliki hal hal lain
yang bisa mengikat suami seandainya anda sudah bukan
lagi pasangan  hangat di tempat tidur. Tapi kita tidak
boleh pasrah, dengan latihan dan olah raga yang
teratur maka usia biologis tubuh kita bisa saja lebih
muda dari usia sebenarnya, selalu berpikir positip
juga akan membuat kita menjadi pribadi yang
menyenangkan.

Jadi buat Mba Susi saran saya:

   1. Ingat lima tahun pertama perkawinan adalah
periode adaptasi, biasanya kalau kita bisa melewatinya
dengan ikhlas dan memetik pelajaran dari proses
adaptasi tersebut maka tahun tahun berikutnya akan
lebih mudah. Anda sendiri baru setahun dan dipisahkan
dengan jarak maka anda harus sabar dan tidak mudah
putus asa.
   2. Bangun iklim komunikasi yang baik dengan
pasangan kita, buat aturan antar kalian berdua cara
menyampaikan complaint atau keluhan, pasangan hidup
bukan musuh jadi berkomunikasilah dengan kasih.
Komunikasi ada 2 yaitu komunikasi eksternal dan
komunikasi internal atau yang sering kita sebut bicara
dengan diri sendiri, jika kualitas komunikasi internal
kita tidak baik dan dipenuhi rasa curiga serta benci
maka komunikasi eksternal sudah bisa dipastikan akan
buruk dan yang ada adalah keinginan untuk mengalahkan
pasangan kita
   3. Jadikan anak sebagai motivasi untuk
mempertahankan perkawinan karena anak akan jadi korban
kalau terjadi perceraian jadi sungguh tidak fair kalau
kita mengorbankan kebahagiaan anak karena keegoisan
kita
   4. Walaupun suami adalah kepala rumah tangga, istri
juga punya peran yang tidak kalah pentingnya yaitu
tiang rumah tangga, jadi anda harus lebih mampu
membangun suasana kondusif dalam rumah tangga anda,
jadikan rumah sebagai sarang buat penghuninya sehingga
rasa nyaman akan membuat pasangan hidup kita ingin
selalu pulang dan tidak menghabiskan waktu di luar
rumah.
   5. Kita juga harus menghargai eksistensi diri
sendiri sehingga jangan pernah membiarkan pasangan
hidup kita mendominasi kehidupan kita secara semena
mena karena ketimpangan ini akan menimbulkan kekerasan
dalam rumah tangga baik fisik maupun psikis.
   6. Santai saja mengayuh perahu kehidupan, ingat
anda tidak sendiri menjalani kehidupan seperti anda,
di luar sana malah ada yang lebih parah jadi kita
harus tetap bisa bersyukur karena diberi pasangan
hidup karena tidak semua orang seberuntung anda.
   7. Berhenti memikirkan diri sendiri dan mulailah
memikirkan orang lain sehingga anda tidak sempat
mengeluhkan ketidak bahagiaan anda.
   8. Biasanya orang yang gagal mempertahankan
perkawinannya yang pertama, dia juga cenderung mudah
memutuskan bercerai pada perkawinan berikutnya dan
siapa bisa jamin pasangan hidup kedua atau ketiga
lebih baik dari yang pertama
   9. Perkawinan seperti tanaman yang membutuhkan
pupuk, penggantian tanah, pemangkasan tangkai dan daun
yang kering, disiram, dipindahkan bila terlalu dibakar
matahari dan semua harus dilakukan dengan pas tidak
boleh berlebihan atau kekurangan serta pada waktu yang
tepat karena tanaman yang sudah kering tidak mungkin
tertolong walau kita siram dengan air seember.

Salam buat Bang Leo semoga tulisan saya bisa menjadi
inspirasi banyak orang.
 
Salam EPOS,
 
Lies Sudianti
Founder & Moderator the Profec
0816995258
lies.s@nissan. co.id
liessuwondo@ yahoo.com


Jawaban 8: Dari Mbak Ratna Ariani
_________________________________



Dear susi,
 
kalau mendengarkan cerita orang-orang yang menikah
bisa-bisa para lajang tidak berani menikah nih.
Saya ibu dari 3 anak usia remaja, masih menikah dengan
suami yang sama selama 20 tahun.
Terus terang saat pacaran kita masing-masing melihat
pasangan kita yang sungguh unik dan berbeda dengan
kepribadian kita. Lebih sabar, lebih perhatian dsb.
Hobbynya pun berbeda dengan kita. Tapi saat berubah
status menikah, ada kecenderungan untuk memaksakan
pasangan berubah seperti apa yang kita mau atau
menurut dengan kemauan kita.
 
Padahal pernikahan adalah give and take, saling
memberi dan menerima satu sama lain. Susah kalau
mengharapkan sesuatu tanpa kita memberi terlebih
dahulu. Nah paling sedih kalau hanya seorang saja
memberiiiiiii terus dan yang lain memintaaaaa. ...
terus, kasihan kan. Namanya bukan lagi sepasang yang
setara tapi saling menginjak dan tidak menghargai
pasangannya.
 
Saya sering mendengar orang-orang saat lajang berkata
: Saya mau menikah dengan orang yang bisa menerima
saya apa adanya... Oh betapa naifnya pernyataan itu?
Gak ada lah yauww....
Itu adalah pernyataan amat sangat egois, karena pada
dasarnya orang yang menikah saling menyesuaikan satu
dengan yang lainnya. Sehingga anda gak heran kalau
ketemu pasangan yang sudah puluhan tahun menikah,
mereka punya sifat dan sikap yang mirip bahkan
wajahnya pun juga mirip satu sama lain. Kenapa? ya
karena saling menyeseuaikan tadi. Kalau pasangannya
rajin bangun pagi, mau tidak mau sang pasangan akan
terbiasa bangun pagi juga. Kalau si istri rajin
menyapa tetangga, mau tidak mau suami ketularan juga
karena disapa tetangga duluan.
 
Segala hal yang kecil bisa jadi masalah besar kalau
tidak ada penyesuaian, persis seperti kata pak
Bientono tadi. Jangan heran urusan odol, handuk basah
bisa jadi besar. Tapi kalau saja pasangannya dengan
diam mengambil odol dan menggantungkan handuk
ditempatnya, ya gak jadi masalah kaaan... Untuk itulah
pasangan itu diberikan, saling melengkapi kekurangan
nya satu dengan yang lain.
 
Masalah bisa meruncing dengan alasan anak, karena
masing-masing dibesarkan dengan cara pendidikan dan
orang tua yang berbeda. Tapi kembali lagi kalau memang
komitmen awalnya menikah untuk menjadi bahagia, pasti
ada solusi untuk setiap masalah.Usahakanlah
membahagiakan pasangan, niscaya anda pun juga
berbahagia dalam menghadapi tantangan kehidupan.
 
Yang penting saat sudah menikah, selesaikanlah masalah
pasutri didalam kamar tidur, tidak keluar dari tembok
rumah. Sekali ada orang ketiga apakah itu ipar, ortu,
adik dan tetangga sekalipun, maka masalah menjadi
lebih besar dari yang seharusnya.
 
Kalau sudah punya anak, pasutri (pasangan suami istri)
tetap perlu meluangkan waktu berdua saja untuk saling
mendengarkan satu dengan yang lainnya. Usahakan bisa
jalan bareng saat ke kantor, makan malam berdua
seminggu sekali. Selamat mencoba deh...
 
salam,
ratna


Jawaban 9: Dari Pak Hubertus Ubur
_________________________________



Melihat kisahnya, barangkali sebelum menikah memang
sudah tidak bisa saling mendengarkan. Hanya hal itu
tidak ketahuan oleh karena tinggal berjauhan. Sekarang
berdekatan di mana komunikasi menjadi lebih intens,
baru ketahuan ternyata tidak mampu saling mendengar.
 
Benarkah analisisnya? Jika betul, advis sy:
 
1. Langkah 1 sudah betul, yaitu sudah sadar akan
persoalannya.

2. Langkah 2: mungkin perlu "mapping" (memetakan)
dalam hal apa (atau ttng apa) komunikasi bermasalah,
dan tidak bermasalah. Misalnya, mengungkit masa lalu?
Menyangkut kesukaan pasangan? Ada masa lalu yang
melukai perasaan pasangan kita, Sebaiknya hal-hal itu
tidak usah diangkat dalam pembicaraan. Pasangan senang
membiacarakan kesukaannya, Mungkin saja kita tidak
tertarik, bahkan tidak menyukainya sama sekali.
Usahakan mendengarkan ceritanya, sehingga pasangan
mungkin akan menganggap kita bagian dari kesukaannya.
Harapannya, ia merasa dihargai, dan kemudian
berupaya hal yang serupa. Bagaimana dinamikanya susah
ditentukan secara umum. Mendengar hal yg tidak
menarik/tidk disukai pasti berat sekali. Yah
begitulah. Namun itu penting. Sy "menderita" sedikit
namun itu itulah salah satu tolok ukur cinta.

3. Langkah 3: hidupkan kembali kesadaran akan tujuan
awal perkawinan

4. Katakan dgn jujur kepada pasangan ttg konsekuensi
dari komunikasi yang "tidk beres" bagi kehidupan
bersama, khususnya bagi anak-anak.
 
Silahkan mencoba,
Hubertus


Jawaban 10: Dari Rekan Edison Y. Tinambunan
___________________________________________



Met pagi Bung Leo,

Maaf saya tidak bisa komentar karena cerita kurang
lengkap apakah karena proses editing Bung Leo (menjaga
kerahasiaan klien) atau Mba Susinya yang cerita
sedikit. Jadi,saya belum bisa kasih komentar karena
takut terkesan mengada-ada. Saya masih melihat
"perbedaan abu" saja untuk sementara ini, si cewek
lebih tua dari cowok. Selanjutnya bisa Bung Leo lihat
dari keahlian Bung sebagai ahli tarot.

Tks
Ed


Jawaban 11: Dari Rekan Rio Panjaitan
____________________________________


Dear Mas Leo,
 
1.Setelah menikah si istri justru jadi nggak percaya
sama suaminya sehubungan dengan tinggal berjauhannya
mereka.
 
2. Ketakutan akan kesendirian dalam mengurus anak.
 
Solusinya : 1.percayailah suaminya 2. atasi
ketakutannya dalam kesendiriannya, banyakin teman dan
bersosialisasi dengan tetangga sekitar. 3. Kalau
memungkinkan ikutan pindah aja tinggal bareng suami.
 
Cheers,
Rio


Jawaban 12: Dari Saya Sendiri
_____________________________


Mbak Susi yang Baik,

Life is a process. I perceived that you are too
pessimistic. Terlalu pesimis menghadapi hidup ini.
Saya bukan bilang itu jelek, tetapi sebagai manusia
kita harus balance. Kalau terkadang pesimis, kadang
lainnya kita juga harus optimis. Pesimisme yang
diimbangi dengan optimisme akan menghasilkan
pragmatisme: suatu sikap yang pragmatik. Pragmatik
berarti praktikal. Dan praktikal berarti praktis.
Bersikap praktis berarti melakukan apa yang harus
dilakukan tanpa merasa perlu untuk berhandai-handai
dan recreate ulang kejadian-kejadian yang telah lewat.
Masa lalu tetaplah masa lalu. Tetapi hidup harus jalan
terus. Makanya: kita tetap hidup di masa sekarang. We
always live at the present. And from the present we
create our future. Always like that. The principle
runs like that.

Kalau ada yang tidak memuaskan di hari ini, pasti ada
juga sisi yang memuaskan bukan? Syukurilah sisi yang
memuaskan itu. Contohnya: tidak semua teman seumuran
Anda telah menikah; yang telah menikah, belum semua
telah memiliki anak. Nah, Anda telah menikah, dan
telah memiliki anak pula. Bukankah itu patut
disyukuri?

Dari rasa syukur yang sedikit itu, akan muncul rasa
syukur yang lain lagi. Demikian seterusnya sehingga,
tanpa Anda sadari, sedikit demi sedikit hidup Anda
akan penuh dengan ucapan syukur terhadap Yang di
Atas... Rasa syukur itulah yang akan membawa
keberlimpahan dalam hidup Anda. Kalau tidak bersyukur
terlebih dahulu, mana bisa hidup berkelimpahan? Dan
berkelimpahan itu bukan hanya dalam bidang materi lho!
Kelimpahan adalah kebahagiaan, hubungan yang harmonis,
yang nyambung, yang saling mendukung.

It all starts by giving thanks to YME.

All the Best,
Leo


Tentang Leo:
____________
Leonardo Rimba adalah alumnus Universitas Indonesia
dan the Pennsylvania State University, seorang
professional tarot reader dan bidang lainnya dalam
ranah Psikologi Transpersonal. Media massa yang pernah
meliputnya antara lain: Koran Tempo, RCTI, AnTV, dan
TransTV. Leo sering muncul dalam acara bakti sosial,
baik bagi kalangan lokal maupun ekspatriat di Jakarta,
dan bisa dihubungi di HP: 0818-183-615. Email:
leonardo_rimba@ yahoo.com. Di internet, Leo dikenal
sebagai seorang pengamat fenomenon indigo, dan sering
diasosiasikan dengan Vincent Liong, the foremost
indigo kid in Indonesia... Bersama Audifax, Leo
menulis buku "Psikologi Tarot" yang akan diterbitkan
oleh penerbit Jalasutra, Bandung. Wait for it!


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
Loading...